oleh

Thomas Tuchel Punya Strategi Khusus untuk Chelsea Juara

Pelatih baru Chelsea, Thomas Tuchel memiliki satu strategi jitu untuk sukses klub barunya dengan mengandalkan sosok N’Golo Kante.

Thomas Tuchel mengawali debutnya sebagai pelatih Chelsea ketika melawan Wolves, setelah menggantikan Frank Lampard.

Sayangnya debut pelatih asal Jerman itu tidak begitu baik dengan hasil imbang tanpa gol di akhir pertandingan.

Meski begitu Tuchel masih belum mendapatkan skuad terbaik karena salah satu pemain kunci Chelsea, N’Golo Kante, harus absen akibat cedera.

Tapi pemain Prancis itu diperkirakan akan kembali bermain ketika The Blues menjamu Burnley pada Minggu (31/1/2021) di Stamford Bridge.

Tuchel menilai bahwa Kante akan sangat cocok dengan formasi yang diterapkannya dengan memposisikan pemain 29 tahun sebagai double pivot.

Ia berpendapat Kante akan lebih leluasa menjangkau seluruh area lapangan tengah dibandingkan saat ia berperan sebagai gelandang bertahan tunggal.

Dalam debutnya, Tuchel bermain dengan menggunakan formasi 3-4-3, mirip dengan yang diterapkan oleh Antonio Conte saat di Chelsea.

“Saya pikir dia terkuat dalam double pivot, di tengah dan jantung permainan,” kata Tuchel seperti dikutip dari Football London.

“Itu memberinya kebebasan lebih banyak daripada gelandang bertahan tunggal yang menuntut sedikit lebih disiplin.”

“Kami dapat menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk menjangkau bola di manapun di lapangan”

“Dia seorang pria yang sangat membantu bagi semua orang, dengan potensi besar dan mentalitas pengangkut air.”

“Itulah mengapa sangat penting untuk memiliki dia di tim,” kata Tuchel.

Pernilaian Tuchel bukan tanpa alasan, pasalnya Kante telah terbukti memenangkan dua gelar Liga Inggris berturut-turut ketika dimainkan di posisi itu.

Tahun 2016 dia berduet dengan Danny Drinkwater di Leicester City semnetara tahun berikutnya dia pindah ke Chelsea dan bertandem dengan Nemanja Matic di bawah asuhan Conte.

Dalam 2 periode itu Kante tampil luar biasa dengan perannya untuk menutupi seluruh bagian di lapangan tengah.

Jangan lupakan pula lelucon yang berbunyi ’70 persen bumi tertutup air, dan sisanya oleh Kante’.

Sayangnya, pelatih Chelsea selanjutnya setelah itu melakukan perubahan formasi yang membuat Kante tidak ditempatkan di posisi sebelumnya.

Bersama Mauricio Sarri Kante lebih banyak ditempatkan di sisi kanan formasi tiga gelandang, sedangkan bersama Lampard ia lebih ditarik ke dalam sebagai gelandang bertahan.

Alhasil, pergerakan Kante terbatas dan gagal bersinar di bawah asuhan kedua pelatih tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed